-->
Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan

#Tradisi: TARAWANGSA


Kesenian tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi kebudayaan yang hidup dalam masyarakat penyangganya. Sejak dulu masyarakat Sunda terkenal dengan budaya ngahuma atau berladang. Karena itu kesenian yang tumbuh di masyarakat Sunda selalu terkait dengan mitos Dewi Sri. Begitu pula dengan kesenian Jentreng atau lebih terkenal dengan sebutan Tarawangsa. 

#TokohSunda: Mengenal Tokoh-tokoh Sastra Sunda



SEJAUH dapat dilacak, buku atau penelitian tentang tokoh sastra Sunda yang telah diusahakan masih bisa dihitung jari. Sekadar contoh, penelitian Tini Kartini dkk. yang berjudul Biografi dan Karya Sastrawan Sunda Masa 1945-1965

Mengenal Suguhan dan Cemilan Khas Sunda



brdcarticleimage

Indonesia masih dikenal sebagai negara yang penduduknya ramah. Jangankan dengan sesama saudara atau kerabat dekat. Dengan tamu baik tetangga maupun orang asing pun, masyarakat Indonesia cenderung memperlakukannya dengan hangat dan bersahabat.

Tradisi bertamu atau mengunjungi rumah seseorang saat ini memang cenderung menurun. Kesibukan sering menjadi alasan utama. Apalagi, kemajuan teknologi kini mendukung berkurangnya intensitas tatap muka antar seseorang.

Bertamu menjadi sering dilakukan pada momen tertentu. Misalnya, ketika suasana hari raya suatu agama atau ada peringatan istimewa lainnya. Saat seperti itu, hidangan yang disuguhkan di meja tamu pun kadang adalah hidangan yang spesial, khas dari tempat asal sang tuan rumah.

Di daerah Sunda sendiri, ada beberapa makanan kecil yang sering disajikan saat momen tertentu untuk menyambut tamu. Beberapa diantaranya mungkin kita temukan ketika bersilaturahmi saat Lebaran kemarin. Yuk kita berkenalan lebih akrab dengan mereka:

1. Opak


Opak adalah salah satu cemilan populer di kalangan masyarakat Sunda. Dengan bahan utama berupa tepung beras, opak mengandung banyak karbohidrat. Opak bisa dikategorikan sebagai 'kerupuk'. Namun, pembuatannya berbeda dengan kerupuk pada umumnya.

Jika kerupuk biasa dimatangkan dengan cara digoreng, opak dimasak dengan dibakar. Adonan opak yang berupa campuran tepung beras dengan gula dan garam dibentuk lingkaran dengan ukuran tertentu. Selanjutnya, adonan diselipkan pada sebilah bambu dan didekatkan ke hawu (tungku dari tanah liat/semen) sehingga adonan menjadi mekar.

Konon, jaman dahulu opak dibuat saat ada perayaan atau acara tertentu. Namun kini, opak biasa disajikan di ruang tamu sebagai jamuan atau juga cemilan keluarga.


2. Ranginang


Seperti opak, ranginang pun termasuk cemilan kategori 'kerupuk' karena rasanya yang kriuk. Namun, pembuatan ranginang mirip seperti membuat kerupuk pada umumnya.

Adonan dibuat dan dijemur hingga kering untuk kemudian digoreng. Bedanya, adonan ranginang terbuat dari beras ketan yang tidak dihancurkan sehingga tekstur nasinya tetap terasa. Selain itu, untuk mendapatkan rasa yang renyah adonan sebaiknya digoreng dalam minyak yang banyak dan bersuhu panas.

Seperti opak juga, awalnya ranginang adalah salah satu cemilan primadona ketika suasana hari raya atau hajatan untuk memperingati acara tertentu. Seiring dengan meningkatnya popularitas ranginang, cemilan ini pun kini biasa dihadirkan di ruang tamu atau ruang keluarga sebagai teman ngobrol.


3. Tape Ketan


Seperti ranginang, makanan yang satu ini juga terbuat dari bahan utama beras ketan. Bedanya, beras tersebut difermentasikan dengan ragi sehingga rasanya menjadi manis asam.

Penyajian tape ketan bermacam-macam. Bisa dengan dibungkus daun pisang yang menimbulkan aroma khas, atau hanya dengan dimasukkan ke dalam toples seperti halnya kue kering. Untuk penyajian di ruang tamu biasanya dipilih cara yang kedua.

Tape ketan termasuk makanan basah yang awet karena bisa bertahan sampai seminggu. Semakin lama usia tape ketan, semakin banyak air hasil fermentasi yang keluar dan menambah cita rasa tersendiri. Air manis tersebut aman untuk diminum selama tidak terlalu banyak karena bisa mengakibatkan perut menjadi panas di dalam.


4. Ali Agrem


Mungkin saat bersilaturahim dari rumah ke rumah kemarin ada yang menemukan cemilan yang satu ini, ali agrem. Sekilas, bentuknya seperti kue donat sehingga mungkin kita akan terkecoh.

Ali agrem adalah salah satu kue tradisional khas Sunda. Dengan bahan utama tepung beras dan gula merah, kue ini memiliki cita rasa yang manis dan legit.

Konon, nama ali agrem ini berasal dari bentuknya yang menyerupai cincin (ali) yang melingkar (agrem). Dulu, kue ini sering hadir saat pesta pernikahan sebagai salah satu suguhan utama. Kini, ali agrem sering disajikan di toples pengisi cemilan di ruang tamu saat merayakan momen tertentu.


5. Seroja


Bentuknya seperti bunga seroja alias teratai. Rasanya gurih, mengandung tepung beras, tepung terigu, gula putih, dan pala atau daun jeruk untuk menambah aroma harum.

Pembuatan kue seroja ini menggunakan cetakan khusus bergagang panjang yang biasanya terbuat dari alumunium. Adonan dimasukkan ke dalam cetakan, lalu keduanya dimasukkan ke dalam minyak panas sehingga berwarna keemasan. Untuk mengeluarkannya, adonan yang sudah matang tadi digoyangkan agar lepas dari cetakan. Itulah sebabnya beberapa daerah mengenal kue ini sebagai 'kembang goyang'.

Dengan resep tradisional yang turun temurun, kue seroja dulu sering disajikan pada acara hajatan. Kini, kue seroja juga masih sering dihadirkan saat Lebaran untuk suguhan bagi tamu atau menjadi salah satu pilihan oleh-oleh.

Sebagaimana kekayaan alam dan budayanya yang beragam, kekayaan kuliner Indonesia pun perlu dilestarikan. Apalagi, beberapa proses pembuatan cemilan Sunda pun tergolong sederhana dan mudah. Kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi? (RY)
Photo Source: Google.com












SAJARAH SENI BELADIRI BENJANG


Ada suatu keistimewaan dalam permainan benjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.
Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.
Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang selalu melaksanakan tatacara dengan membaca do’a – do’a agar dalam pertunjukan benjang tersebut selamat tidak ada gangguan. Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda.
Dari pondok pesantren, kesenian ini menyebar ke masyarakat biasanya di masyarakat diselenggarakan dalam rangka memperingati upacara 40 hari kelahiran bayi, syukuran panen padi, maulid nabi, upacara khitanan, perkawinan, dan hiburan lainnya, dan dapat pula mengiringi gerak untuk dipertontonkan yang disebut “DOGONG”.
Dogong adalah suatu permainan saling mendorong dengan mempergunakan alu (kayu alat penumbuk padi). Dari Dogong berkembang menjadi “SEREDAN” yang mempunyai arti permainan saling mendesak tanpa alat, yang kalah dikeluarkan dari arena (lapangan); kemudian dari Seredan berubah menjadi adu mundur, ini masih saling mendesak untuk mendesak lawan dari dalam arena permainan tanpa alat, memdorong lawan dengan pundak, tidak diperkenankan menggunakan tangan, karena dalam permainan ini pelanggaran sering terjadi terutama bila pemain hampir terdesak keluar arena. Dengan seringnya pelanggaran dilakukan maka permainan adu mundur digantikan oleh permainan adu munding.
Permainan benjang sebenarnya merupakan perkembangan dari adu munding atau adu kerbau yang lebih mengarah kepada permainan gulat dengan gerakan menghimpit lawan (piting). Sedangkan pada adu munding tidak menyerat – menyerat lawan keluar arena melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) mendesak lawan dengan kepalanya seperti munding (kerbau) bertarung. Namun gerakan adu mundur, maupun adu munding tetap menjadi gaya seseorang dalam permainan benjang. Permainan adu munding dengan menggunakan kepala untuk mendesak lawan, dirasakan sangat berbahaya, sekarang gaya itu jarang dipakai dalam pertunjukan benjang. Peserta permainan benjang sampai saat ini baru dimainkan oleh kaum laki-laki terutama remaja (bujangan), tetapi bagi orang yang berusia lanjutpun diperbolehkan asal mempunyai keberanian dan hobi.
Apabila kita membandingkan perkembangan benjang zaman dahulu dengan sekarang pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok, hanya pertandingan benjang zaman dahulu, apabila pemain benjang masuk ke dalam arena biasanya suka menampilkan ibingan dengan mengenakan kain sarung sambil diiringi musik tradisional yang khas, kemudian setelah berhadapan dengan musuh mereka membuka kain sarung masing-masing, berikut pakaian yang ia pakai di atas panggung, yang tersisa hanya celana pendek saja menandakan dirinya bersih, tidak membawa suatu alat (sportif). Setelah itu, penabuh alat-alat musik benjang dengan penuh semangat membunyikan tabuhannya dengan irama Bamplang (semacam padungdung dalam irama pencak silat), maka setelah mendengar musik dimulailah pertandingan benjang, dalam pertandingan ini karena tidak ada wasit mungkin saja di antara pemain ada yang licik atau curang sehingga bisa mengakibatkan lawannya cidera. Apabila ada seorang pemain benjang posisinya sudah berada di bawah pertandingan seharusnya diberhentikan karena lawannya sudah menyerah.
Namun, karena tidak ada yang memimpin pertandingan (wasit) akhirnya lawan dikunci sampai tidak bisa mengacungkan tangan yang berarti lawannya bermain curang, apabila pemain benjang yang curang itu ketahuan oleh pihak yang merasa dirugikan akan menimbulkan keributan (ricuh) terutama dari penonton, tetapi apabila pemain benjang itu bertanding dengan bersih dan sportif maka pihak yang kalah akan menerimanya walaupun mengalami cidera, sebab sebelumnya sudah mengetahui peraturan pertandingan benjang apabila salah seorang mengalami cidera tidak akan ada tuntutan. Seorang pemain benjang dinyatakan kalah setelah berada di bawah dalam posisi terlentang, melihat tanda seperti itu wasit langsung memberhentikan pertandingan dan lawan yang terlentang tadi dinyatakan kalah (sekarang). Pertandingan benjang seperti zaman dahulu sudah tidak dilakukan lagi, sebab sekarang sudah ada wasit yang memimpin pertandingan, dan dilaksanakan di atas panggung yang memakai alas semacam matras sehingga tidak begitu membahayakan pemain benjang (tukang benjang).
Sedangkan mengenai teknik dan teori benjang dari zaman dahulu sampai sekarang tetap sama tidak berubah, teknik dan teori benjang yang biasa dilaksanakan oleh tukang benjang, antara lain :
1. Nyentok (hentak) kepala
2. Ngabeulit
a. Beulit Gigir,
b. Beulit Hareup,
c. Beulit Bakung,
3. Dobelson
4. Engkel Mati
5. Angkat
6. Dengkekan
7. Hapsay(ngagebot), dan lain-lain
Dalam pertunjukan benjang di masyarakat, jumlah anggota kelompok pemain benjang berkisar antara 20 sampai 25 orang yang terdiri dari satu orang pemimpin benjang, 9 orang penabuh, dan sisanya sebagai pemain. Inti dalam grup benjang ini 15 orang yang tediri atas 9 orang penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit.
Walaupun benjang dikatakan sepi tetapi ada beberapa orang pemain benjang yang mencoba terjun ke dunia olahraga gulat dan mereka berhasil menjadi juara, di antaranya:
1. Adang Hakim, tahun 1967 – 1988 asal Desa Cinunuk
2. Abdul Gani, tahun 1969 – 1970 asal Desa Ciporeat
3. Emun, tahun 1974 – 1977 asal Desa Cinunuk
4. Ii, tahun 1978 – 1979 asal Desa Cinunuk
5. Taufik Ramdani 1979 – 1988 asal Desa Cinunuk
6. Asep Burhanudin tahun 2000 asal Desa Cinunuk
7. Tohidin, tahun 2000 asal Desa Cinunuk kategori anak-anak
Ada pengalaman menarik dari Adang Hakim, bahwa ia pernah dikeroyok oleh beberapa orang pemuda yang tidak dikenal, tiba-tiba mereka menyerang mempergunakan pukulan dan tendangan, Adang Hakim dengan tenang dan penuh percaya diri mampu menyelamatkan diri dengan mempergunakan teknik bantingan, sehingga pemuda tadi tidak berkutik dan yang lainnya melarikan diri takut dibanting seperti temannya. Teknik benjang yang selama ini ia geluti, ternyata bisa digunakan untuk membeladiri di alam terbuka, bukan hanya di arena pertandingan saja. Oleh kerena itu seorang pemain benjang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diri kita selamat dimanapun berada dan selain itu pemain benjang harus selalu ingat pada motto benjang yaitu “jangan sombong dengan kemenangan, dan jangan sedih apabila mengalami kekalahan”.
Benjang dan Gulat
Penulis sangat tertarik sekali melihat teknik-teknik beladiri benjang yang hampir sama dengan gulat, tetapi sebenarnya antara gulat dengan benjang masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, dalam gulat waktu

 VIDEO SENI BENJANG

Daptar Naskah Sunda


Daptar Naskah Sunda


Biantara Nyérénkeun jeung Narima Calon Pangantén


Biantara Nyérénkeun jeung Narima Calon Pangantén

Ku Dadan Sutisna
Ieu seratan kénging simkuring waktos ngiringan Saémbara Nyérénkeun Pangantén sa-Jawa Barat di Hotél Lingga, taun 2004, minangka wawakil ti Kota Bandung. Saleresna mah seueur pisan naskahna téh, nanging kedah dikoréhan heula.

Biantara Sesepuh ti Calon Pangantén Lalaki

Saleresna mah ieu téh masih kénéh rénghap ranjug. Nembé pisan dongkap, tos dipiwarang biantara. Padahal ari kahoyong mah teras ngagolér, wantuning lalampahan ngajajapkeun calon pangantén téh kacida tebihna, di jalan ogé dugi ka opat dinten opat wengi. Nanging da haté mah kebek ku kabingah, ku kituna, simkuring ngahaturkeun: Assalamu'alaikum Wr. Wbr.
Hadirin anu sami-sami ngaluuhan ieu pajemuhan,
Alhamdulillah, ku panangtayungan Alloh SWT, dinten ieu urang tiasa riung mungpulung, kanggo langkung maheutkeun babarayaan, manjangkeun tali mimitran, antara kulawarga Bapa H. Among Suryabarata ti Bandung sareng kulawarga Bapa Éméd Latipah ti Kalimatan Timur. Sumuhun, ari sonona mah nataku, da puguh urang téh kasapih ku tebih kahalang ku anggang.
Simkuring asmana pun lanceuk, Bapa Éméd, kapapancénan pikeun sasanggem di payuneun para hadirin. Ari maksadna mah, sakumaha anu diharéwoskeun ku anjeunna sababaraha dinten kalarung, seja masrahkeun putrana, Jang Omad Kadaluwarsa anu gaduh niat ngadahup ka putra Bapa Among, Néng Siti Sapuratina. Sanaos ari awak mah simkuring téh misah ti batur, nya jangkung nya badag nya hideung, nanging dina surun-sérén calon pangantén mah rumaos ngatog kénéh. Ku kituna seja tawakup ti anggalna, bilih aya kecap anu milepas meuntas tina jejer.
Bapa Among ogé tangtos parantos uninga, réhna pun lanceuk, gaduh putra anu sakitu cicingeunana. Duka dusun, duka mémang tos watekna, dugi ka umur 27 téh bangun anu henteu hir-hir begér. Gawéna ulukutek di kamar. Sigana sono kénéh ka buku ti batan ka nu lenjang téh. Atuh puguh pun lanceuk guling-gasahan, inggis ku bisi Jang Omad kumaha onam, malum jaman ayeuna seueur kacarioskeunana. Pun lanceuk mah apan sok togmol pisan: "Naha ari manéh teu hayang boga pamajikan? Kuliah geus tamat, gawé geus boga, umur geus manjing, tapi siga nu euweuh haté ka awéwé," kitu saur pun lanceuk téh. Ari walerna: "Upami tos aya jodona mah, moal ka mana!"
Ari sataun kapengker, Jang Omad alangah-éléngéh, badé waléh tayohna téh. Cenah geus kaimpleng pibojoeunana, malah geus paheut rék teras ngawangun rumah tangga. Bingah tur panasaran pun lanceuk téh, énggal baé ditalék: "Mana atuh? Cik wanohkeun ka Bapa,". Walerna téh: "Da abdi gé teu acan tepang!". Beu! Na ari barudak ayeuna.
Sihoréng simanahoréng, anu dipicangcam ku Jang Omad, nya urang dieu pisan, urang Bandung. Kantenan sesah patepang, wantuning Bandung-Samarinda téh apan kalintang tebihna. Barudak téh wawanohan dina ... duh na aya ku hilap, mana Jang Omad? (rarat-rérét) Dina naon cenah, Sujang? Tah, éta, dina internit, aéh na létah téh, in-ter-nét. Teu apal nu kararitu kolot mah. Da éta wé, ka dituna téh maké jeung cutang-céting sagala, terus silih kirim potrét.
Najan jonghokna di dunya maya, tapi apan jodo mah Anjeun-Na Anu Uninga. Bet terus dicukcruk pancakakina, geuning pun lanceuk téh rék bébésanan jeung baraya, atuh sasatna asa diaku dulur. Sumuhun, baraya kasebatna, da papada urang Sunda. Najan pun lanceuk tos 15 taun ngumbara di Kalimantan, nanging ari ka lembur mah angger baé nineung. Bingah, bingah nu taya papadana.
Langkung bingah deui, basa Jang Omad ngajak nganjang ka lemah Sunda, nepangan bébéné dina internét téa. Opat sasih kapengker, alhamdulillah pun lanceuk tiasa jonghok sareng kulawarga Pa Among, anu saterasna ngararancang pikeun ngadahupkeun Jang Omad ka Néng Siti. Henteu lepat tina pirasat, manahoréng anu diimpleng ku Jang Omad téh sanés istri joré-joré. Geulis rupa geulis haté. Sumuhun éta gé, barudak urang téh hirup dina jaman moderén, nanging geuning henteu lali ka purwadaksi, masih kénéh ngajénan adat titinggal karuhun. Buktosna mah, barudak meredih sangkan dina waktuna panganténan téh maké adat budaya Sunda, sanés ku budaya anu jolna ti nagara deungeun. Sanaos Néng Siti sakitu paséhna nyarios basa Inggris, sanaos Jang Omad sakitu hatamna kana komputer, tapi henteu mopohokeun ajén-inajén Sunda. Tah, éta pisan nu matak bingah téh.
Nguningakeun baé ieu mah, pun lanceuk téh, kalebet simkuring, 15 taun kapengker ngumbara ka Kalimantan, ngiringan transmigrasi. Alhamdulillah pinanggih sareng kamarasan, dugi ka ngadegkeun Pakumpulan Urang Sunda, ti dituna mah hoyong ngiring ngamumulé basa sareng budaya bantun ti lembur. Janten teu kedah hariwang, sanaos 15 taun janten urang Samarinda, ari niup suling sareng metik kacapi mah insya Alloh tiasa kénéh. Tuh, pan, bet jig-jig kana kacapi.
Bapa Among miwah Ibu sakalih, kitu deui wargi sepuh sadaya anu sami ngaluuhan ieu pajemuhan. Tepungna Jang Omad sareng Néng Siti téh, éstuning kersaning Alloh. Atuh cenah éta barudak gaduh cita-cita hayang ngahiji, ari kolot mah apan saukur nyambung ku dunga, asal ulah ngarérémokeun baé, asal duanana pada-pada suka henteu ngarasa diamprok-amprok. Nanging, kangaranan anu rék diajar rumah tangga, tangtos dina émprona téh talag-tolog sareng dirarampa kénéh. Biasana rék ulin ka mana gé taya nu nyaram, geus jadi salakina mah tangtu kasengker ku nu di imah. Biasana duit téh dibéakkeun ku sorangan, geus nikah mah kudu diatur ku duaan. Biasana saré téh ... aéh, na bet jig-jig kana saré. Tah kitu Pa Among, simkuring asmana pun lanceuk nyérénkeun Jang Omad téh sanés mung raga badagna wungkul, nanging sareng sadaya kakirangan anu nyampak dina dirina.
Ari haté mah simkuring téh parantos yakin, badé pédé baé, Jang Omad tangtos ditampi ku kulawarga Pa Among di Bandung. Nanging, kanggo langkung ngantebkeun pamaksadan, nya seja nalék sakali deui. Bilih baé, Néng Siti teras ngolémbar, malum pun alo mah sakitu buktosna. Ku émutan, ti batan ngolémbar engkéna, nya mending balaka baé ti ayeuna. Papadaning kitu, simkuring mah percanten ka Néng Siti, moal unggut kalinduan moal gedag kaanginan.
Atuh Jang Omad, simkuring wantun ngajamin, dugi ka ayeuna masih kénéh ngait ka Néng Siti. Simkuring minangka sepuhna, tangtos isin binarung wéra upama Jang Omad lanca linci. Leres pisan deuih, Jang Omad téh masih kénéh nyorangan, teu acan kantos rimbitan. Dijamin teu aya watek cunihin, Néng Siti téh éstuning anu munggaran, sareng mudah-mudahan deuih janten anu pamungkas.
Simkuring saparakanca dongkap ka dieu, tebih-tebih ti Kalimantan, éstuning teu jingjing teu bawa téh sanés ukur lalambé. Kaémut panginten, kumaha riweuhna. Tadina badé nungtun munding, mung teu kasawang kumaha marabanana, kacipta kalahka begang di jalan. Ngabantun bungbuahan, kuriak buruk mantén. Tungtungna mah ngaligincing. Ongkoh asa kabebereg ku calon pangantén nu bangun teu sabar. Sajajalan téh ngan SMS-an baé, "antosan geulis, sakedap deui," cenah, padahal nembé jrut ka buruan.
Sakitu panginten ti simkuring mah, bilih waktosna kabujeng teu nyekapan. Hapunten tina samudaya kalepatan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wbr.

Biantara Sesepuh ti Calon Pangantén Awéwé

Assalamu'alaikum Wr. Wbr.
Ngahaturkeun nuhun ka panata acara anu parantos nyésakeun lolongkrang waktos kanggo simkuring, pikeun sasanggem dina ngabagéakeun kulawarga calon pangantén pameget. Rupina teu aya deui kecap nu langkung anteb kanggo ngébréhkeun rasa bagja jero dada, iwal ti tasyakur bini'mah, ngagalindengkeun puji miwah sukur ka Alloh SWT, anu tos ngalungsurkeun pirang-pirang nimat kanggo urang sadaya; nimat iman, nimat Islam, nimat dipaparin jagjag tur waringkas, dugi ka dina dinten anu sakieu cangrana, insya Alloh urang baris nyakséni ngadahupna Jang Omad Kadaluwarsa ka Néng Siti Sapuratina.
Alhamdulillah, pangersa Bapa Naib ti Kantor Urusan Agama parantos sumping. Mangga Pa Naib, calikna di payun, supados simkuring langkung reugreug. Sumuhun, sabada nyukruk galur pancakakina mah, geuning sareng Bapa Naib téh masih baraya. Kupungkur, simkuring kantos sakulah-sakolih sareng anjeunna di internaat, waktos sasarengan janten murid Sakola Normal. Kulan? Sumuhun, sanés internét, in-ter-naat. Upami ayeuna mah teu bénten sareng asrama.
Ku ditepangkeunana sareng Bapa Naib, asa tambih ngandelan kayakinan, réhna perkawis jodo, pati, bagja sinareng cilaka mah anging Alloh Anu Uninga. Bapa Naib nembé ngaharéwos, saurna, sanajan tos puluhan taun didamel di Kantor Urusan Agama, sanajan tos ratusan kali nyatetkeun anu panganténan, nanging berekah dugi ka danget ieu masih kénéh nyorangan. Kulan? Sumuhun, di dieu saurna nyorangan sotéh, da di bumina mah aya nu ngaréncangan.
Urang kantunkeun heula dongéng Bapa Naib. Badé langsung baé ngawaler patalékan ti sesepuh calon pangantén pameget, bilih aranjeunna gantung dangueun, bilih teu sabar nganti walonan. Mangkaning nembé nyorang lalampahan sakitu tebihna, sageuy upami diulur ku waktu téh. Pa Éméd, kitu deui wargi-wargi sanésna ti Kalimantan, Jang Omad téh seja ditampi, sakali deui, seja ditampi binarung ku kabingahan.
Bapa Emed kalih Ibu, kitu deui wargi-wargi sadaya anu ku simkuring dipihormat,
Sanaos tos aya kedal ucap yén Jang Omad seja ditampi, nanging asa kirang payus upami sasanggem téh dicagkeun dugi ka dieu. Angot nguping sasauran ti sesepuh calon pangantén pameget sakitu ngagebayna. Étang-étang kaul wé ieu mah, ngiring bingah ka nu badé panganténan.
Upami disebat katempuhan buntut maung mah panginten kirang merenah, nanging kamari mah ditataharkeun pikeun biantara nampi calon pangantén téh nya pun lanceuk pisan, Kang Among Suryabarata Kusumah. Nanging sabada diémut deui ku anjeunna, sok inggis ébat dina waktosna. Bilih dumadakan geumpeur, malum nembé pisan badé diajar janten mitoha. Kalih perkawis tos aya babadiamian ti anggalna, upami nu nyérénkeun pangantén katingalna jangkung badag, seja dilawanan ku nu langsip baé. Nya simkuring anu katempuhanana, da rumaos pangbegangna.
Hadirin anu dipihormat,
Simkuring asmana kulawarga Bapa Among, kantenan ngarasa bagja binarung reueus, réhna anu dianti-anti ti kamari, ditungguan ti mangkukna, ayeuna teu burung cunduk. Sumuhun, ari melangna mah nataku, bilih aleutan ti Kalimantan kumaha onam di jalan, mangkaning saurna lalampahan ti Samarinda ka Bandung téh dugi ka opat dinten opat wengi.
Néng Siti mah tos kantenan, guling-gasahan ti kamari kénéh. Bet ngimpleng nu lain-lain cenah, kumaha mun Jang Omad katiruk jajantung ku pramugari kapal cai, dugi ka bolay niatna. Énggal baé dibeberah, masing yakin cék simkuring téh, Jang Omad mah teu aya watek cunihin. Ayeuna mah, Nyai, geus teu jaman ngeleyed téh. Jaman bruk-brak, jaman jujur, henteu sumput salindung. Na ari gantawang téh pun lanceuk nyeukseukan, "Aéh-aéh, naha ceuk saha Akang cunihin, ceuk saha Akang ngeleyed?" kituna téh bari muril-muril kumis.
Sumuhun, seja nguningakeun baé, wiréh pun lanceuk mah ceplak pahang, upami sasauran téh tara didingding kelir. Nu mawi, titip baé ka Jang Omad, teu kénging soak upami engké Pa Among muncereng, da tos kitu pasipatanana. Teu kénging inggis ku kumis, da haténa mah sakitu léahna. Nanging, apan ayeuna mah sanés jaman Si Kabayan, tos kedah teu usum mitoha paséa sareng minantu téh. Sanés kitu, Kang Among? Sanés saurna téh.
Hadirin anu dipihormat,
Kantenan, kawitna mah Kang Among ogé teu kinten hélokna, basa uningaeun Néng Siti gaduh beubeureuh dina internét. Saurna téh: "Teu kaharti ari barudak ayeuna. Naon resepna bobogohan jeung nu teu puguh bungkeuleukanana, piraku rék ngagaléntoran aksara? Jeung nu ngajirim wé atuh Nyai, tuh aya Kang Dian, aya Cep Usman, Jang Dédé, ngan ulah wé ari jeung Ceu Éti mah."
"Kang Omad téh nyaaheun pisan ..." sanggem pun alo.
"Nyaaheun kumaha, tepung gé acan. Weléh teu kaharti ku kolot mah, sakalian wé atuh kawin téh jeung komputer."
Ah, da kitu geuning pun lanceuk mah.
Nanging, saparantos panjonghok, geuning teu burung ngarepok. Reugreug simkuring téh, najan jodona urang Kalimantan, tapi apan enas-enasna mah apan masih kénéh urang Sunda. Masih kénéh maké basa Sunda. Masih kénéh ngamumulé budaya Sunda. Simkuring panuju pisan kana kasauran sesepuh calon pangantén pameget. Leres barudak téh digedékeun dina jaman anu tos béda, nu disebat modéren téa, nanging reueus naker upami masih émut ka titipan karuhun mah.
Hadirin anu dipihormat,
Pamaksadan Bapa Éméd téh geuning pertéla pisan. Nguping niat anu sakitu ihlasna, sageuy upami simkuring sareng pun lanceuk ngamomorékeun. Perkawis Jang Omad anu magar seueur kakirangan, ah, da apan jalma mah teu aya nu sampurna. Tong boroning barudak anu nembé badé diajar rumah-tangga, dalah anu tos puluhan taun, sapertos simkuring, ari pacogrégan mah sok aya baé. Sawangsulna Si Nyai, eukeur mah ogoan, katambah babarian, belikan, teu sabaran, Jang Omad gé langkung uninga panginten. Hapunten pisan upami Néng Siti kirang pangaweruh dina ngawulaan carogé. Nyanggakeun ka Jang Omad kanggo ngalelempengna.
Sumpingna kulawarga Jang Omad anu magar teu nyandak munding-munding acan, teu janten émutan pikeun simkuring mah. Sanaos tadi ku simkuring katingal aya nu nyandak soang dua jodo. Ku kasumpinganana gé, simkuring tos pirang-pirang ngahaturkeun nuhun.
Mugia sabada diwalimahan, Jang Omad sareng Néng Siti janten kulawarga anu runtut-raut sauyunan. Sing manjang laki-rabina, dipaparin putra anu soléh, geusan ngahontal kabagjaan dunya rawuh ahérat.
Sakitu nu kapihatur.
Billahi taufik walhidayah. Wassalamu'alaikum Wr. Wbr.

Kuda Lumping Ahmad Bakri (Éséy)


Kuda Lumping Ahmad Bakri

Ku Dadan Sutisna
Ku Dadan Sutisna
Nurut-nutur kuda lumping, nepi ka poho balik. Duit titipan keur indungna leungit di tempat lalajo. Ukur bisa ngahinghing ceurik. Rék balik sieun dicarekan. Komo apan cék bapana, budak bangor mah rék dikirim ka Tanggerang, dikerem di jero bui. Bakating baluweng, basa aya jalma ngajak indit, milu waéh. Teu apal ka mana nu rék dijugjug. Tungtungna kadungsang-dungsang di lembur batur.
Kitu ku kira-kira mah, ringkesan buku Kabandang ku Kuda Lumping (KKL) beunang Ahmad Bakri téh. Bisi pondok teuing, nya urang caritakeun wé saeutik mah, kahirupan Si Udin anu kabandang ku kuda lumping téh. Cénah, cék nu kagungan ieu carita, Si Udin téh budak bangor. Lamun ulin kamalinaan, tara inget ka waktu balik. Atuh ku Jurutulis, bapana, mindeng pisan diseukseukan. Malah hiji mangsa mah disingsieun, upama bangor waé, rék dikirim ka Tanggerang.
Dasar budak atuh. Papagah kolot teh ukur sakeudeungna napelna. Basa hiji mangsa ku indungna dititah nyokot duit ka Mang Mita, kalahka élodan. Pareng aya raraméan, kuda lumping téa. Terus baé dilalajoan.
Tah, ari kadungsang-dungsang di lembur baturna mah henteu lila, ukur sababaraha poé. Sigana mah pangarang ogé karunyaeun ka Si Udin, anu ngadon gering di imah deungeun-deungeun. Jol Mang Emod, tatangga Udin. Atuh salamet Udin teh, bisa balik deui ka lemburna.
Basajan pisan KKL téh. Komo apan, anu dicaritakeunana ogé ukur cutatan tina kahirupan barudak pilemburan. Katémbong pangarang imeut pisan lebah nyaritakeun kahirupan barudak lembur mah. Sakumaha dina karya sejenna, Ahmad Bakri bisa pisan ngahirupkeun carita ku dialoh-dialoh anu spontan. Asli bogana urang lembur. Henteu dirautan ku kecap-kecap puitis, sumawonna diémbohan ku nu liris ngagalindeng mah. Éstuning saujratna, saayana, luyu kana réalita. Malah sakapeung mah, blég wangkongan urang lembur anu dirékam, terus dipindahkeun kana tulisan.
Parandéné kitu, lain hartina Ahmad Bakri samakbruk dina merenahkeun kecap-kecap. Keukeuh wé ari palanggeran basa Sunda mah dicekel pageuh. Angot aya kasebutna, Ahmad Bakri teh lancar pisan dina ngagunakeun basa Sunda mah, sahanteuna atuh da guru basa Sunda.
Asana teu salah-salah teuing mun aya nu nyarita kieu téh : "Upama hayang ngumbar panineungan ka pilemburan, baca atuh karangan Ahmad Bakri!"
Terus ayeuna mah diémbohan deui : "Mun hayang nginget-nginget deui mangsa budak (pangpangna palebah bangorna), baca atuh Kabandang ku Kuda Lumping!"
Ahmad Bakri téh pangarang populér. Réréana mah nulis carita pondok jeung novél. Ari KKL mah carita anu dihususkeun keur barudak (ngan cék Kang Hawé, keur kolot ogé hadé). Duka tah, naha aya deui buku bacaan barudak karangan Ahmad Bakri nu séjénna, sajaba ti KKL, da kuring mah henteu kungsi manggihan.
Balik deui kana kuda lumping. Ceuk Kang Hawé deui baé, KKL téh bagian tina panineungan mangsa budak anu hésé dipopohokeunana. Ngan palebah Kang Hawé ngaharib-harib kana tokoh Udin mah, kuring teu apal. Nu écés, KKL mangrupa gambaran kabangoran barudak lembur. Ari nu bangor téa, apan sok aya mamalana. Cara Si Udin. Teu nurut ka kolot, béhna kadungsang-dungsang.
Ngajugjugan KKL ditilik tina élmuning sastra nu leuwih jembar, komo mun diajén maké téori-téori sastra kontemporér, asana kamaliaan teuing. Atuh dina ieu tulisan, kuring teu boga niat ngajén KKL maké élmuning sastra (da tuna kénéh élmuna ogé). Ampun paralun, sieun terus sasab kawas Si Udin. Nya urang padungdengan papada urang baé. Ongkoh apan Ahmad Bakri-na ku anjeun, teu kersaeun upami karya-karyana disebut sastra.
Cék kuring, buku anu ditulis taun 1967 téh, henteu laas pikaresepeunana. Éta wé, sajeroning maca téh, bet asa ngabandungan nu keur ngawangkong. Basa kuring maca éta buku di tengah imah, naha da rarasaan téh aya Aki Uda keur ngadongéng di dapur.
Éta sigana mah kaunggulan Ahmad Bakri téh, bisa mincut nu maca sangkan ulah eureun maca bukuna. Ahmad Bakri henteu mentingkeun teuing leunjeuran carita, ngan kumaha carana sangkan carita anu dijieunna mah bisa hirup jeung komunikatif. Da lamun ditulisna dina basa Indonésia mah, can tangtu aya "sarian" karya-karya Ahmad Bakri teh.
Sajaba ti ngandung "peupeujeuh" ka barudak, sangkan anu maca ulah bangor kawas Si Udin, KKL ogé méré gambaran kahirupan barudak mangsa harita. Boa ayeuna ukur kari waasna ngala piit di sampalan teh. Boa ayeuna mah piitna oge geus areuweuh.
Tokoh Udin anu dicaritakeun dina KKL, apan ukur injeuman pangarang, da dina enas-enasna mah mapagahan barudak sangkan ulah bangor. Ahmad Bakri pinter pisan ngatur komposisi carita, nepi ka nu maca teh henteu ngarasa keur dipapagahan. Umumna, dina buku-buku bacaan barudak béh ditunakeun, kadangkala urang sok kerung. Remen pahili antara buku nu ngandung leunjeureun carita jeung buku panungtun budi pekerti.
Unggal maca, bisa jadi béda-béda pamanggihna sanggeus maca hiji buku teh. Ngan keur sakuringeun, aya nu matak gereget dina KKL. Éta, Si Udin diwarahna ku pangarang mani sakeudeung pisan, ukur méakeun sababaraha kaca. Mun Si Udin téh ulah waka aya nu nulungan. Da éta wé, basa Si Udin keur leumpang di nu poék bari diguyur hujan, hég aya mobil ngarandeg, maké jeung rada hanjelu. Aéh, kétang, da apan anu rék macana ogé barudak, tangtu karunyaeun maca Si Udin "disangsarakeun" ku pangarang teh.
Ngan cék kitu cék kieu ogé, kuring muji katapisan Ahmad Bakri. []

Sasakala Situ Paténggang (Dongéng)


Sasakala Situ Paténggang

Ku Dhipa Galuh Purba


CINTA mibanda kakuatan nu rohaka. Cinta, merelukeun perjoangan jeung pangorbanan, kalayan disorang ku haté nu ihlas. Najan dipisahkeun ku anggangna tempat, tapi ku cinta mah mo burung jauh dijugjug  anggang ditéang.
Ki Santang jeung Déwi Rengganis, nu ngawiru cinta munggaran. Hiji mangsa manggih cocoba, kudu paturay paanggang tineung. Sanaos kitu, ari ati papada ati mah teu weléh cumantél. Peureum kadeuleu, beunta karasa. Anu ahirna ngajurung duanana pikeun maluruh laratan séwang-séwangan. Déwi Rengganis maluruh laratan Ki Santang, pon pilalagi sabalikna. Patéangan-téangan, tug dugi ka nyaliksik ka tepis wiring.
Cunduk waktu, ninggang mangsa, antukna Déwi Rengganis sareng ki Santang teu burung patepung lawung paamprok jonghok di hiji tempat kalayan disaksian ku  hiji batu gedé, anu kiwari katelahna Batu Cinta.
“Jungjunan buah ati di pawenangan, nyanggakeun raga katineung anu ngancik dina asmara. Jisim abdi téh parantos apruk-aprukan maluruh laratan salira, nanging ihlas, rido, dugi ka ayeuna urang tiasa patepang dibarung haté kebek kabagjaan…” kitu saur Déwi Rengganis.
“Deudeuh teuing, geulis. Akang ogé apan salami ieu téh lumampah tanpa tujuan, éstuning nuturkeun indung suku téh sanés bobohongan. Demi anu diseja, taya deui iwal ti patepang sareng salira. Kiwari akang kacida bungahna, bungah kagiri-giri wiréh urang patepung di ieu tempat…” waler Ki Santang.
Déwi Rengganis sareng Ki Santang silih cacapkeun kasono di luhur batu gedé, batu cinta. Salajengna Ki Santang ngedalkeun pamaksudanana pikeun nyandingkeun Déwi Rengganis. Tangtos baé Déwi Rengganis henteu nampik, sasat tos jadi cita-citana ti kapungkur. Kilang kitu, Déwi Rengganis aya panuhun ka Ki Santang.
Manawi teu kaabotan, jisim abdi téh gaduh kahoyong…”
“Mangga, geulis. Hoyong naon baé, moal burung ditarékahan, pikeun ngabuktikeun cinta akang ka salira…”
“Duh… jungjunan buah haté, jisim abdi téh hoyong dipangdamelkeun  situ sareng parahuna, kanggo urang duaan lalayaran…”
“Situ?”
“Sumuhun, jungjunan…”
“Sumangga, ku akang dipangdamelkeun…”
“Akang Ihlas?”
“Tangtos baé, geulis. Bujeng hingga ukur situ, dalah dipiwarang ngadamel laut ogé, tangtos akang bakal narékahan sakamampuh akang…”
“Hatur nuhun, akang…”
Kocap  Ki Santang anu katelah mibanda kasaktian, langsung ngetrukeun sakur pangabisana.  Ki Santang nénjrag lelemah dibarung ku kakuatan anu rohaka. Bumi inggeung, sarta cai nyusu ngaburial. Cai nyusu ngeueum éta patempatan tug dugi ka jadi situ. Teu hilap, Ki Santang ogé ngadamel parahu, kanggo lalayaran.
Sabada Ki Santang tiasa nohonan pamundut Déwi Rengganis, tangtos baé Déwi Rengganis ogé henteu sulaya kana jangjina. Ki Santang sareng Déwi Rengganis maheutkeun jangji, meungkeut cinta ku pertikahan.
*
Kiwari Situ Paténggang kakoncara minangka salahsahiji tujuan wisata Jawa Barat. Naha bet katelah Paténggang? Taya nu terang sacara pasti, da anu écés mah kawitna tina  paténgan. Maksad Paténgan téh nyandak tina lalampahan Ki Santang sareng Déwi Rengganis anu  silih téangan atanapi patéangan-téangan. 
Demi parahu anu didamel ku Ki Santang téa kiwari ngajanggélék jadi  hiji pulo anu perenahna di satengahing situ. Éta pulo téh  kiwari dinamian Pulo Asmara. Tangtos nyandak tina asal muasal parahu, anu dianggo ngumbar asmara ku Déwi Rengganis sareng Ki Santang.
Dumasar tina éta lagénda, kiwari tumuwuh kapercayaan atanapi mitos di sabagéan masarakat. Utama mah aya nu gaduh pamadegan, yén sing saha  baé anu nuju papacangan, bakal lana hubunganana, pami lalayaran di Situ Paténggang. Ku ayana éta mitos, seueur anu wisata ka Situ Paténggang téh disarengan ku bébénéna séwang-séwangan.***

Urang Téh Nuju Ngantosan


Urang Téh Nuju Ngantosan

Ku Ganjar Kurnia

Urang téh nuju ngantosan
réngséna sandiwara
anu lalakonna diserat
di loh mahfud
mangsa sakeclak getih ngajanten daging:
ditiup roh hirup - kahirupan

Ulang taun
babak-babak liliwatan
saméméh bugang
dijajap kana liang panganjrekan anyar:
pajaratan

Hiliwir rampé jeung samboja
anu beuki atra
(tanda lalakon téréh anjog kana
tutup lawang sigotaka)
teu ngabarobahkeun para pamaén:
angger aranteng
kawas teu engeuh
yén
sandiwara téréh lekasan

Mangsa layar panggung ditutup lalaunan
kecap tahlil
mirig cekleuk panungtungan, jeung
gaur ceurik pipisahan
kasalahan-kasalahan ngalalakon
salila sandiwara dunya lumangsung
teu bisa dibalikan
(tos aya sérén-sumérén padamelan
ti Rokib - Atid ka Munkar - Nakir)

Urang téh nuju ngantosan!


Cimandiri 11 Februari 2008

Lini (Carita Pondok)


Lini (Carita Pondok)

Ku Ahmad Bakri
Carita Pondok Ahmad Bakri
Jam sapuluh peuting. Nu ti beurangna tas capé gawé mah geus talibra. Di jalan geus teu pati aya nu ngulampreng. Tu­kang baso waéh traktrak-tréktrék nakolan birit katél butut, nawarkeun daganganana, susuganan aya kénéh nu hayangeun nambul angeun pibekeleun saré.
Sawatara budak bujang tingrariung sisi jalan, ngawarang­kong ngénca-ngatuhu, silih gonjak bari udud pataréma sake­nyot séwang.
Riyeg ... riyeeeggg ... riyeeeggggg ....
Jagat génjlong dibarung ku ngaguruh sora sagala sakur nu kaeundeurkeun. Jéréwét di ditu-jéréwét di dieu, nu tingweu­leuhweuh, nu takbir, lain wayah lain mangsa. Jelema riab kala­luar.
Ger cékcok di mana-mana, ngaromong teu puguh leun­jeur­­anana dibarung ku kasima. Cék nu meneran di imah, awak asa lénjong, réa parabot marurag tina lomari, tina bupét naon ku hanteu. Cék nu lulungu asa ngimpi dialungboyongkeun. Cék nu meneran keur leumpang di jalan, rarasaan téh cénah asa rék kateureuy ku jagat. Nyeueung jalan siga ombak-ombak­an.
Riyeg deui .... Éar deui .... Awéwé réa nu riwih-rawah, bari ngakeup ongkoh, nuyun ongkoh.
"Gustiiii ... boa ayeunaaaaa .... Lebur kiamah téééééh ....!" Cék nini-nini bari eueuriheun.
"Ka dieu, nini, rék ka mana!" cék sora lalaki ti kebon cau.
"Rék ... rék néang incuuuuu ...!"
"Ulah ... ulah ka mamana, bisi kumaonam!"
"Aaaaah ... da melaaaang ka budak!" témbalna bari nga­béngbéos, lilinieunana beuki kacida.
Wanci tumorék, sasari mah iwal ti sora jangkrik jeung si­meut, harita mah ngadak-ngadak geunjleung. Jelema bahé ka luar, ka jalan. Barudak rungsing lulungu, keur meujeuhna tibra kagareuwah. Nu ngadat dina aisan dicombo ku susu indungna, di dinya di geusan pabaliut.
Pulisi jeung tentara matroli ka sakuliah kota, asa keur usum perang. Para pajabat jeung pamong désa teu cicing, lolongok ka ditu-ka dieu.
Geus rada leler meueusan, silih tanya, kumaha ... kumaha ... kumaha ....?
Jol nu rancucut, ngahodhod kawas hayam kabulusan.
"Nanaonan silaing téh kawas nu kabancuh?"
"Walah ... sial, euy ... heuheuheuheuheuh ...," cék nu di­tanya, ngaheuheuh awahing ku tiris.
"Ari kitu ...?"
"Ngusial beuteung ... heuheuheuh .... Lumpat ka balong bari lulungu .... Kakara gé gog na ana atuh ari riyeg téh ... galéong waéh pacilingan runtuh .... Nepi ka diturunmandi­keun tengah peuting .... Jarijipen heuheuheuh ...."
"Naon tuh eusi patuangan téh ...? Ogoan, lungsur mani kudu dianteur ku nu kagungan."
Semet nyengir bari ngaheuheuh, huntu noroktok.
Ger béja, imah Dokter Gigi runtuh, imah Kuwu di Lembur­situ rebah, garasi, warung baso, garduh jeung réa-réa deui.
"Alusna mah toko Si Akoy nu rugrug téh nya euy," cék sa­urang.
"Eum, sok aya-aya baé, ngadungakeun cilaka ka batur!"
"Tuman, bongan tara méré nganjuk!"
"Saha nu sudi nganjukkeun ka tukang ngajeblug!"
"Barina gé lebar ku Si Amoyna."
"Bangsa babah mah tara keuna ku musibat."
"Naha?"
"Diaping dijaring ku Tapékong béjana."
"Wah, ngomong téh!"
Héaaaang sora sirine. Jelema caruringhak. Lar mobil ambu­lans kawétankeun. Ti mana ... saha ... ku naon ...? Silihtanya pada teu nyaho. Jol motor nyusul. Diparegat, ditaranya. Urang Nagrak cénah, sakulawarga .... Imahna ambruk pisan. Kabéh tatu parna .... Dius deuih waéh .... Saréréa tinggarodeg, ting­karecrék ....
Jelema pabuis ka ditu ka dieu, silih longok, nu inget ka sobat, ka baraya .... Barudak ngora tingdaréngdék ngadé­déngé­keun, bisi aya béja imah kabogoh kumaonam.
Jol mobil disarurung ku limaan.
"Ku naon tatéh ...?"
"Rék nganteurkeun nu cilaka ka rumah sakit."
"Na atuh disusurung kitu?"
"Teu daék hirup .... Kagebah lini meureun!"
"Saha kitu? Ti mana?" cék nu nanya bari nempo ka jero mobil.
"Ti Sindangrasa, katinggang lomari!"
Nu nyarurung mobil nyarelang ngarambekan heula bari nya­rusut késang ku leungeun baju.
"Sok lah sarurung deui, agé-agé nepi!" cék nu nyekel setir.
"Ké heula ... capé! Manéhna ngeunah nyéngclé ...! Euweuh nu dagang bajigur-bajigur acan .... Garing tikoro!"
"Eum, sok aya-aya waé .... Cageur mantén atuh diselang jajan heula mah!"
Nu ngagimbung tingséréngéh ngadéngé supir ngomong kitu téh.
Sakeudeung-sakeudeung héang ... sakeudeung-sakeu­deung héang sirine mobil ambulans, ngakutan nu carilaka .... Tengah peuting, bari tas manggih kareuwas pohara, kuku­rayeun ngadéngé kitu téh.
Nu srugsrog jeung baraya jeung sobat, silih rangkul bari maraca Alhamdulillah, urut tadi kamemelangan asa kaubaran, kajeueung salametna.
"Ari lini téh naon tuh asal-muasalna, asa gagah-gagah teu­ing?"
"Béjana mah aya gunung bitu ari kitu téh."
"Wah, meureun kadéngé jelegurna!"
"Ari jauh ...?"
"Ning oyagna nepi ka dieu?"
"Pan sajagat kaendagkeun!"
"Cék kolot mah ... buta cénah nu nanggeuy jagat. Mun cangkeuleun sok nguliat. Nya eundeur ka urangna téh."
"Lain kétah, lain buta!"
"Naon atuh?"
"Oray naga nu nanggeuy jagat mah .... Kabéjakeun geu­ning sok aya endog lini .... Pan buta mah tara ngendog!"
"Gandéng lah, ngaraco! Dongéng jaman tai kotok dilebuan ta mah! Paranti nyingsieunan budak."
Jol érté ngiringkeun nu ngabébéyéng jelema, beungeutna balancunur.
"Ku naon tatéh ...? Katinggang naon?"
"Katinggang peureup!" témbal érté.
"Eum, Pa Érté mah .... Nu leres ... ku naon?"
"Disariksa ..., tuman!"
"Ari kitu ...?"
"Batur-batur narulungan nu cilaka, ari ieu kalah ka haripeut ngabadog barangna .... Ngagugubug tip!"
"Rék dikamanakeun ayeuna?"
"Ka Kantor Pulisi!"
"Ning Si Ébon!" cék saurang bari nempo beungeut nu ba­lan­cunur.
"Meujeuhna si éta mah," cék nu séjén ngaharéwos ka batur­na, "baréto gé bapana keur sakarat, lain nungguan cara batur, kalah ka nanawarkeun balong."
"Keur pawit ngadu meureun jeung keur meuli inuman pi­mabokeun! Cekékeun tétélo jelema kitu mah!
"Pan ayeuna gé sakongkol jeung lini .... Asa dijurung laku, dibéré jalan keur ngiruh!"
Lain saeutik korban lini téh. Katut Pa Camat mantuan mang­kuan nu carilaka, diunggah-unggahkeun kana ambulans. Geus puguh deui Pulisi jeung Tentara mah teu kaur mingé. Malah aya nu bobolokot getih balas mangkuan nu taratu.
Tambah ketir nyeueung nu kitu mah, asa nyeueung pilem lalakon perang. Béh dieuna asa jaman répolusi baréto.
"Asa reugreug nyeueung alat nagara kitu mah, nya euy!"
"Ari urang can kabagéan gawé. Taya pisan gadag, semet lalajo nu pabuis ...."
"Urang onaman ...."
"Onaman kumaha ...? Da kawajiban saréréa nulungan nu cilaka mah .... Tugas kamanusaan, deuleu!"
"Mana atuh tulunganeunana? Ma enya nu cilaka kudu ko­ko­téténgan néangan nu rék nulungan! Kudu urang nu nyam­peurkeun!"
"Yu atuh urang ngider .... Lebar tanaga baso teu kamang­paatkeun!
Jol jajaka tiluan, tingtarempo nyidik-nyidik nu tinggarim­bung kawas aya nu ditéangan.
"Néangan saha, Ton?"
"Agus .... Aya di dinya?"
"Tadi mah aya .... Ngaléos deui."
"Ka mana?"
"Nyao ... ka imahna sugan .... Aya naon kitu?
Nu ditanya teu némbal. Gura-giru indit jeung baturna muru ka imah Agus. Nu ditinggalkeun panasaran, bring nalutur­keun, bisi aya tulunganeunana, bubuhan keur usumna.
"Tuh geuning sigana," cék saurang bari nunjuk ka nu diuk di émpér imahna.
"Keur naon, euy, Gus?"
"Teu nanaon .... Ngareureuh tas ngider .... Taya nanaon di ditu?"
"Nyéta puguh rék ngabéjaan!"
"Ngabéjaan naon?" cék Agus ngoréjat.
"Si Enéng, kabogoh di dinya, kamusibatan!"
"Kapapaténan boa," cék nu séjén, "da midangdam baé."
"Saha nu cilaka téh ...? Si Enéng ...?" cék Agus teu sabar.
"Si Enéng mah nu midangdamna! Nu cilakana mah bapana boa .... Atawa ... indungna sugan ...."
"Keun waé modar gé bapana mah ...! Indungna kajeun ..., cua, siga nu sarebeleun pisan .... Pédah déwék batan sakieu, ngaligeuh can boga gawé .... Sieuneun anakna dibawa kokoro meureun minantuan ka déwék mah!" cénah bangun nu sebel kabina-bina.
"Tah kabeneran, euy, ari kitu mah!" cék Enton.
"Naha?"
"Ayeuna waktuna nu mustari keur némbongkeun jasa .... Nyeueung silaing tohtohan mah piraku sugan haténa teu lilir .... Malik asih pasti .... Jadi minantu kadeuheus engké silaing, Gus!"
"Heueuh geura .... Minantu idéal cék basa ayeuna mah," cék nu séjén mairan.
Ngahuleng waé Agus téh kawas keur mikir.
"Tong disapirakeun, euy, kasempetan alus kacida .... Mang­paatkeun, meungpeung aya pitulung lini!"
"Na enya kitu, euy?" cék Agus asa-asa, "sebel ku gedé-huluna gé déwék téh! Angot bebengok bapana mah, mani kawas neuleu anjing budug ari déwék ngulampreng hareup­eun imahna téh!"
"Heueuh ayeuna waktuna cekéng gé bangsa raja nu mi­nantuan ka anak si itu si éta, ari geus bukti mah kapahlawan­anana .... Lah ... éta sirine ambulans aya ku matak ketir ...."
"Kudu kumaha atuh déwék ayeuna ...?" cék Agus bangun bingung.
"Néang ambulans ..., rawu ku silaing bapana atawa in­dung­na nu cilaka, bawa ka rumah sakit .... Kerong tah irung déwék mun itu teu malik asih ka silaing."
"Kana naon atuh ka dituna ...? Leumpang waé nya ...?"
"Nelepon waé atuh ti ... ti Kantor Penerangan nu deukeut!"
"Heueuh .... Yu atuh anteur!"
Bring waéh.
"Asa rék gedé mangpaatna nya euy lini téh keur Si Agus mah!"
"Hih tuda sagala ogé sugri Kersaning Pangéran mah taya nu teu mangpaat .... Kari bisa waé napakuranana .... Nu puguh waé geura, tukang kayu tukang tembok baris maréma, réa imah oméaneun."
"Urang gé mun ditampik ku pimitohaeun mending ngon­dang sakadang lini, neda kamandangna."
"Yéh, ngabarabékeun sajajagat siah!"
Srog ka Kantor Penerangan.
"Hallo ...! Nyuhunkeun ... eu ... ambulans .... Hallo ... ieu ti Kantor Penerangan .... Nyuhunkeun dikintun ambulans .... Muhun ... nyuhunkeun énggal ... répot ...! Di ... di Jalan Hanjuang No. 7 .... Muhun ... énggal diantos!"
"Kumaha cénah?" cénah baturna.
"Sakeudeung deui cénah, keur nurunkeun heula korban ti Bolénglang .... Yu waé ka ditu, urang dagoan hareupeun imah­na!"
Bring ka Jalan Hanjuang. Hareupeun imahna kadéngé ké­néh nu midangdam téh. Tétéla Si Enéng, da wawuh kana sorana. Gék dariuk dina téras, capé tas leuleumpangan waé.
Héang sirine .... Gura-giru dipapagkeun ka jalan. Reg eureun hareupeun lawang buruan.
"Mana ...?" cék supir ambulans.
"Ké antos!" cék Agus bari muru panto hareup.
Trok-trok-trok .... Ngadagoan sakeudeung ..., trok-trok-trok deui beuki tarik.
Bray panto tengah muka, bréh bapana Si Enéng, bray deui panto hareup. "Aya naon?" cénah bangun reuwas.
"Itu ... eu ... abdi ngabantun ambulans ...."
"Ambulans ...? Keur naon?" cék pribumi kereng sanggeus apal kana beungeut sémah.
"Sanés aya nu cilaka?"
"Hah ...!?"
"Badé dibantun ka rumah sakit."
"Cék saha aya nu cilaka?"
"Kakuping ... eu ... Enéng nangis."
Gebrug panto ditutupkeun hareupeun irung Agus, ceklék dikonci. Tinggal Agus ngajanteng samar polah. Ngalieuk ka babaturanana geus areuweuh, naringgalkeun. Kari supir am­bu­lans kawas nu teu sabar, ngalangeu naleukeum kana panto mobil.
Torojol Si Encum, réncang di dinya, ti gigireun imah.
"Ku naon Enéng téh?" cék Agus bari nyampeurkeun.
"Sumilangeun .... Biasa Enéng mah ari badé kareseban téh sok siga ripuh pisan."
Agus ngarahuh. Léos waéh muru pager gigir, jleng luncat.
"Héy ... héy ...! Rék ka mana ...? Mana nu cilaka téh?" cék supir ambulans.
Ngabéngbéos waé calon minantu kadeuheus téh, teu ngalieuk-lieuk acan.***
Tina Dukun Lepus (Kiblat Buku Utama, 2002)